Karya Puisi
“Perjalanan Dalam Diam”
Di ujung pagi yang belum sempat bersuara,
kutemukan bayangmu berdiri di antara cahaya,
langit masih biru muda,
daun-daun menari pelan dalam dekap embun yang tersisa.
Aku berjalan,
membawa langkah yang kadang ragu, kadang penuh harap,
di jalan setapak yang penuh jejak kenangan,
kupungut satu per satu bisikan masa lalu,
lalu kuselipkan di sela napas yang masih mencoba tabah.
Angin menyapa dari arah yang tak kutahu,
membisikkan cerita yang pernah kulupa,
tentang tawa yang gugur bersama senja,
tentang luka yang tumbuh di balik pelukan kata-kata.
Waktu tak pernah benar-benar berhenti,
ia berlari meski kita diam,
ia menghapus jejak meski kita ingin bertahan,
dan aku,
aku hanyalah serpih bayang yang mencoba utuh dalam pecah.
Langit mulai menua,
warnanya tak lagi biru,
menjadi jingga yang tenang tapi penuh perpisahan,
matahari pun pelan-pelan pamit,
dan aku masih di sini, menunggu makna dari semua perjalanan.
Aku tak butuh jawaban dari dunia,
hanya butuh waktu untuk duduk dan bertanya,
mengapa hati bisa lelah tapi tetap ingin mencinta?
mengapa rindu bisa tumbuh bahkan saat tak ada yang dituju?
Langkah ini bukan tentang sampai atau tidak,
tapi tentang bagaimana aku belajar berdiri setiap kali jatuh,
tentang bagaimana aku tetap berjalan,
meski beban tak selalu bisa dibagi dalam kata.
Dan ketika malam benar-benar datang,
bintang tak lagi hanya cahaya,
ia menjadi saksi,
bahwa dalam diamku,
ada ratusan cerita yang tidak sempat terucap,
tapi selalu hidup—
di dalam dada yang terus berdegup.
Komentar
Posting Komentar